The Power of Emak-Emak Dalam Membangun Desa Wisata

Berbicara hasil tentu semuanya tidak terlepas dari hal yang namanya proses dan dalam sebuah proses tidak semua bisa dilalui semudah membalik telapak tangan. Tentang apa pun di dunia ini, sesedarhana apa pun, semudah apa pun semuanya membutuhkan proses. Makanan, yaitu mie-instan yang disebut instan saja harus memasak air dulu untuk bisa membuat mie menjadi matang dan harus menunggu beberapa menit untuk bisa menikmati dan jikalau mau mie dinikamati dengan rasa yang lebih sesuai selera maka harus di tambahkan beberapa bahan-bahan/bumbu-bumbu tertentu.

Keterkaitan dengan analogi diatas adalah sebuah kisah proses bagaimana tokoh-tokoh masyarakat melewati tantangan-tantangan dalam membangun ekonomi desanya sendiri dengan produk-produk makanan dan ketrampilan-ketrampilan lainya yang dimmiliki oleh masyarakat hingga sekarang tumbuh menjadi desa wisata dan bisa dikenal oleh masyarakat luar hingga ke ranah internasional.

The Power of mak-mak yang tergabung dalam Koperasi Wanita (Kopwan) Putri Rinjani memiliki motto Kita Punya Kita Bisa Sukses Berjamaah bertempat di Dusun Tapon Desa Bile Bante Kecamatan Pringgerata Kabupaten Lombok tengah berdiri pada Tahun 2011 yang di pelopori oleh HJ. Zaenab yang pembentukan nya di latar-belakangi banyak hal salah satunya adalah HJ. Zaenab sendiri melihat bagaimana supaya Sumber Daya Alam Yang dihasilkan masyarakat setempat bisa bertambah nilai. HJ. Zaenab yang kini telah mempunyai brand yang diberi nama taponA food yang hampir semua produknya berbahan dasar Rumput Laut (Dodol Rumpu Laut, Tortila Rumpu laut/ikan Tuna/Udang, Bakso Bakar Rumput Laut, sambal cengeh dll). Koperasi Wanita (Kopwan) Putri Rinjani yang beranggotaakan ibu-ibu diantara nya adalah ibu hakyah yang produknya adalah serba singkong (kripik singkong, tigapo, singkong goreng, cincang) dan ibu fatmawati yang produknya adalah serba talas (kripik talas, Mie Ayam Ceker dll).

Pemasaran produk-produk dan jasa-jasa dipasarkan melalui pemasaran offline di Pasar Pancingan Bile Bante yang berkonsepkan makanan sehat tanpa bahan pengawet yang dikelola oleh Pemerintah Setempat yang mengharuskan semua orang yang melakukan transaksi di Pasar Pancingan harus menggunakan Koin yang orang setempat menyebutnya kepeng yang berbentuk koin yang dalam Bahasa Indonesia kepeng artinya adalah uang.

Pasar Pancingan pada saat ini buka hanya pada hari minggu dari jam 08 : 00 sampai jam 12 : 00 wita. Sebelum memasuki Pasar Pancingan tepat dipintu masuk tersedia tempat pembelian koin (kepeng) dengan nominal yang tersedia adalah 2.500, 5.000 dan 10.000 hingga kita akan bisa menikmati hidangan dari para penjual dengan bertransaksi menggunkan koin (kepeng) yang sudah kita beli. menariknya lagi dipasar pancingan ini tersedia juga alat-alat musik bagi siapa saja yang mau bermain musik dan bernyanyi tanpa mengeluarkan goceh sepeserpun.


Namun kali ini The Power of  Mak-Mak sedang menjalani pelatiahan untuk meningkatkan daya saing dan produktifitas dengan melakukan pemasaran Via On-Line yang di dampingi langsung Oleh Mahasiswa-mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat yang terselenggara atas kerja-sama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah jakarta, The University of New South Wales (UNSW), Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Pemerintah Daerah Setempat dengan Melibatkan beberapa lembaga yang bersangkutan dengan kegiatan ini seperti Pusat Layan Usaha Terpadu (PLUT) dan team dari Google Gapura Digital yang dilaksanakan satu bulan kedepan yang telah di mulai dari 2 september lalu .

Dengan mengunjungi rumah Ibu-Ibu Pelaku Usaha yang tergabung dalam Koperasi Wanita (Kopwan) Putri Rinjani dijam-jam yang telah di sepakati bersama antara Pelaku Usaha dan Mahasiswa-Mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB sebagai tindak lanjut dari pelatihan. Dalam pendampingan tentu tidak berjalan lancar-lancar saja. Ada beberapa kendala yang dialami Mahasiswa-mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama NTB diantaranya pengetahuan ibu-ibu yang sangat minim dengan dunia online atau internet dan beberapa dari ibu-ibu juga terkendala dengan gadget yang mereka miliki masih terbilang versi rendah  sehingga ada beberapa aplikasi yang dibutuhkan tidak bisa terinstal namun semua itu tidak menyurutkan semangat ibu-ibu dalam pendampingan untuk belajar terbukti pada minggu pertama pendampingan dengan antusias yang tinggi mereka pada saat ini sudah memiliki E-Mail dan beberapa akun yang di butuhkan dalam pemasaran produk-produk mereka dalam pemasaran On-Line.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru